Taman Puring, Taman Belanja Murah
27 November 2010 Tinggalkan Komentar
Taman Puring, Taman Belanja Murah
Bagi kebanyakan orang Jakarta yang sering berbelanja sepertinya sudah tak asing lagi dengan sebuah taman yang berada di wilayah selatan kota Jakarta. Tepatnya di wilayah Mayestik Kebayoran Baru, taman yang awalnya dijadikan tempat bertransaksi barang-barang seken alias bekas pakai namun memiliki kelas ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi di ibukota maka meningkat pula barang-barang yang tersedia di sana.
Para pembeli yang datang dari berbagai kelas ekonomi itu pun berbondong-bondong menyinggahi Taman Puring yang sudah beberapa kali terbakar dan kini sudah disulap menjadi tempat yang nyaman, setidak-tidaknya bagi para pedagang yang menempati. Berukuran sekitar 60 x 50 meter ini, Taman Puring yang berada tepat di belakang kantor Polsek Kebayoran Baru Jakarta Selata ini menampung berbagai pedagang yang menjajakan barang seperti baju, celana, sepatu, barang elektronik seperti handphone dan sound system, kaset lawas, compac disc, peralatan kendaraan bermotor yang kebanyakan roda empat, kaca mata dan asesoris yang digunakan sehari-hari tersedia di sana. Tentunya dengan berbagai merk terkenal.
Dalam kesibukan sehari-hari, Taman Puring yang dikenal dengan istilah Tampur ini pun tak luput dari jangkauan para selebriti dan pemburu barang-barang bermerk di seluruh pelosok tanah air. Bahkan Tampur ini pun dijadikan barometer harga-harga barang bermerk. Seperti yang diakui oleh Tino (25) yang sudah satu tahun terakhir ini dipercayakan oleh pamannya menjaga kios baju dan celana mode masa kini. “Banyak juga yang membeli baju dan celana dari kios saya ini untuk dijual kembali,” ungkapnya.
Selain itu, para pedagang yang membuka butik di kota asalnya pun mengkoleksi dagangannya dengan membeli barang di Tampur ini. “Biasanya mereka memborong baju dan celana dari Tampur ini untuk dijual kembali di kota asalnya,” jelasnya.Para pembeli di Tampur memang bermacam-macam, ada yang berstatus pedagang dan mereka yang sekedar melengkapi barang-barang yang untuk digunakan sehari-hari. “Kalau pedagang, jelas terlihat dari barang yang akan dibeli, biasanya mereka membeli lusinan sesuai dengan dana yang tersedia, tapi kalau orang biasa, paling belinya cuma satu paling banyak tiga potong pakaian,” katanya.Pakaian yang dijual di Tampur memang sangat berkualitas, hal ini bisa dilihat dari model jahitan dan potongan yang rapi. “Barang yang ada di kios saya ini memang datang langsung dari pabrik yang biasa mendapat pesanan dari luar negeri, dengan kata lain barang saya ini memang untuk ekspor,” ujarnya.Baju dan celana dari mulai merek Adidas, Nike, America Eagle, The Eagle Polo, North Creek, Ecko Unltd dan D&G terpampang jelas di kios Tino. “Semua harga yang ada di kios ini dijamin mutu dan lebih murah dibanding toko yang ada di pusat perbelanjaan besar di Jakarta,” katanya sedikit berpromosi.Selain Tino yang berdagang di Tampur, masih ada sosok Maskur (28), pria yang berasal dari Madura Jawa Timur ini sudah sekitar delapan tahun berdagang di Tampur. “Dulu sewaktu saya baru datang dari Madura, Tampur belum senyaman ini, dulu kios saling dempet dan sumpek, pokoknya tahan aja kalau belanja diTampur dengan hawa sumpek,” tuturnya.Kalau Tino berdagang baju dan celana, Maskur sudah sejak pertama datang di Tampur berdagang sepatu-sepatu olahraga dan sepakbola dengan merk ternama, sebut saja Nike, Diadora, Adidas, Puma dan Mizuno. “Sering sekali saya mendapat pesanan dari pemiliki klub anggota Liga Indonesia untuk menyediakan sepatu bola dalam jumlah besar, biasanya untuk para pemain klubnya,” jelas Maskur.Harga sepatu bola yang ada di kiosnya memang memiliki selisih sekitar Rp 200 hingga Rp 400.000 dengan toko yang ada di pusat perbelanjaan besar. “Lumayan kan harga di Tampur, meski barang sama dengan yang ada di konter sepatu bersangkutan,” tuturnya.Tak heran, kios Maskur selalu didatangi oleh pesepakbola-pesepakbola yang bermain di Liga, baik itu pemain lokal maupun pemain asing. “Banyak juga pemain asing yang belanja sepatu ke saya, selain itu mereka juga belanja di Tampur untuk dijual lagi ke rekan-rekannya yang bermain di kompetisi negara tetangga,” ungkapnya.Barang-barang di Tampur memang sebagian besar bermerek terkenal, namun para pembeli pun harus berhati-hati juga jika ingin membeli sesuatu barang yang disukai di Tampur, sebab jika tak mengetahui barang yang menjadi incarannya adalah barang asli, tentu akan kecewa. Banyak juga barang yang ada di Tampur barang kelas dua atau bahkan kelas tiganya, tentu dengan harga berbeda dengan yang asli.Selain itu, mengingat Tampur dahulunya adalah sebuah taman yang dijejali oleh pedagang barang bekas alias loakan, hingga kini pun Tampur masih menyisakan kios-kios yang memang menyediakan barang bekas, sebut saja kamera dari manual hingga digital ada di Tampur, barang elektronik pun tak ketinggalan bersama perkakas bangunan pun ada. Di sudut belakang deretan kios yang menjual beberapa asesori mobil dari lampu hingga soundsystem mobil pun tersedia juga baik yang bekas maupun yang masih gress alias baru.Harga KepercayaanBicara tawar menawar di pasar yang konon awalnya tempat menampung barang-barang bekas dari segala jenis benda kebutuhan sehari-hari itu haruslah disertai dengan modal pengetahuan tentang barang yang akan digunakan. Dengan kata lain, calon pembeli haruslah mengetahui tipe barang yang akan dibelinya. “Sebelum ke Tampur harus dibandingkan dahulu dengan yang ada di pusat perbelanjaan terkenal yang ada di ibukota, yang jelas barang yang sama dengan di toko harganya bisa lebih murah kalau sudah berada di Tampur,” jelas Mamad (43) pedagang pakaian dan sepatu bermerek itu.Mamad yang sejak tahun 1993 berdagang di Tampur ini memberikan cara bertransaksi di Tampur. “Kalau saya dalam memberikan harga kepada pembeli realistis saja, biasanya saya hanya mengambil untung sekitar Rp 25.000 saja,” katanya.Menurutnya, kepercayaan dari pelanggannya harus dijaga demi berlangsungnya transaksi dagangannya. “Biasanya pelanggan saya puas, mereka tahu barang, makanya tidak banyak rewel soal harga, mereka tahu barang saya sama dengan barang yang ada di toko besar, dan tentu saja harganya miring,” paparnya.Karena kepercayaan yang dibinanya dengan pelanggan itulah, hingga saat ini Mamad bisa eksis di Tampur. “Banyak pedagang di Tampur yang gulung tikar karena tidak menanamkan kepercayaan kepada pembeli disini,” ujarnya tanpa merinci lebih jauh lagi.Selain itu diakui Mamad, masalah kejujuran pun harus dikedepankan dalam bertransaksi di Tampur ini. “Saya kalau bilang barangnya kelas dua, ya bilang kelas dua, tapi kalau barang asli saya bilang asli, kalau saya tak jujur mungkin saya sudah gulung tiker karena pelanggan pada kabur,” bebernya.
